Kampung Batik Kembang Turi Blitar dan Sejarahnya
Kampung Batik Kembang Turi Blitar dan Sejarahnya

KBRN, Blitar: Kota Blitar dikenal sebagai bumi Bung Karno atau bumi Proklamator. Rasanya, tak lengkap jika datang ke Kota Blitar tidak mengunjungi dan berziarah di makam Presiden RI pertama Ir. Soekarno.

Selain identik dan dikenal dengan bumi Bung Karno, kini Kota Blitar memiliki icon terbaru yakni Kampung Batik Turi.

Kampung Batik Turi menjadi salah satu ikon pariwisata terbaru di Kota Blitar, ketika memasuki kawasan kampung ini pengunjung akan disambut dengan hiasan batik di dinding pinggir jalan yang sangat kreatif. Kampung Batik Turi ini berlokasi di Kelurahan Turi Kecamatan Sukorejo Kota Blitar, disini wisatawan juga akan disambut dengan keramahan para penduduk di kampung ini.

Penyebutan nama Kampung Batik Turi ini juga menyimpan sejarah yang panjang, karena pada mulanya warga di kampung ini tidak ada yang memiliki darah keturunan seni membatik.

Awalnya pada tahun 2017 Walikota Blitar mengadakan program Maya Juwita (Masyarakat Berdaya menuju Kota Pariwisata), dari program ini setiap kelurahan diwajibkan untuk menunjukan keunggulan atau potensinya. 

Parianto selaku Ketua Kelompok Batik Kelurahan Turi menerangkan, menindaklanjuti program tersebut ia melakukan pengecekan data pelatihan yang selama ini sering diikuti oleh warga setempat. 

Hasilnya, didapati dari sekian banyak jenis pelatihan, yang paling sering diikuti adalah pelatihan membatik. Berawal dari situ, akhirnya muncul ide untuk mengangkat seni batik menjadi potensi di Kelurahan Turi.

"Awalnya itu karena program Maya Juwita, kita bingung karena kan nggak punya potensi apa apa. Trus saya coba cek data di kelurahan soal jenis pelatihan yang sering diikuti warga dan ternyata yang paling banyak adalah seni membatik," ujar Parianto, Senin 20 Desember 2021.

Usai disepakati oleh tokoh masyarakat, tokoh agama, masyarakat dan mendapat dukungan dari Pemkot Blitar, akhirnya Kampung Batik Turi ini diresmikan oleh Walikota pada 2 Oktober 2018.

"Setelah mendapat persetujuan dari beberapa pihak akhirnya diresmikan oleh Walikota Blitar pada tanggal 2 Oktober 2018," kata dia.

Penyebutan nama Kampung Batik Turi ini ternyata juga menyimpan sejarah, ada beberapa hal yang melatarbelakangi pengambilan nama kampung ini. Parianto mengaku, konon katanya pada zaman dahulu di sepanjang jalan kampung ini banyak ditumbuhi tanaman bunga turi.

Kemudian, nama jalan disini juga disebut dengan jalan turi, selain itu bunga turi yang memiliki arti filosofi bermacam macam sehingga pada akhirnya diputuskan jika penyebutan nama kampung ini adalah Kampung Batik Turi.

Kata Parianto, bunga turi merupakan salah satu sayuran yang bisa diolah berbagai jenis makanan mulai dari pecel, dibuat urap serta beberapa jenis menu makanan yang lainnya dan rasanya enak. Artinya, dengan melihat filosofi ini dirinya berharap produk batik dari Kampung Batik Turi bisa disukai semua kalangan masyarakat.

"Dulu itu kan disini banyak ditumbuhi tanaman turi, trus jalan di depan sini juga jalan turi, kemudian bunga turi merupakan salah satu jenis sayuran yang bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan. Dari sinilah kami berharap produk batik ini bisa disukai semua kalangan masyarakat," ungkapnya.

Selama kurang lebih hampir tiga tahun berjalan, perkembangan Kampung Batik Turi semakin menunjukan progres positif.

Kini, Kampung Batik Turi sudah memiliki hak paten atau sudah diakui, sehingga proses ini bisa memacu kampung batik untuk bisa membuat produk yang lebih baik lagi.

"Kalau perkembangan sangat bagus ya, produk kami juga sudah mendapat hak paten atau sudah diakui. Ini bisa terus memacu kami untuk membuat produk yang lebih baik lagi," ungkapnya.

Saat ini, di Kampung Batik Turi sudah memiliki sebanyak 29 orang pembatik, biasanya mereka membatik di rumah masing masing, namun ketika ada pesanan puluhan pembatik ini melakukannya di galeri.

"Kalau untuk jumlah pembatik itu saat ini ada 29 orang, kadang kadang mereka mengerjakan di rumah masing masing. Tapi kalau ada pesanan baru nanti dikerjakan bersama di galeri," terangnya.

Perbedaan produk batik di Kampung Batik Turi dengan produk batik yang lainnya adalah dari motif yang dipilih. Motif ciri khas di Kampung Batik Turi Kota Blitar ada empat macam meliputi motif koi, bunga turi, kendang dan belimbing.

Dikatakan Parianto, keempat motif batik tersebut merupakan produk asli di Kota Blitar.

"Kalau perbedaan batik kami dari batik lain itu ya dari motifnya ya. Kami punya ciri khasnya sendiri yaitu motif koi, bunga turi, kendang dan blimbing," ucap dia.

Proses pembuatan batik yang membutuhkan waktu yang lama, membuat harga kain batik yang diproduksi Kampung Batik Turi Kota Blitar ini berbeda beda. Ada dua jenis batik yang diproduksi yaitu batik tulis dan batik cap.

Batik tulis per lembar dengan ukuran 2 meter dibanderol dengan harga Rp400 ribu, sedangkan batik cap dibanderol dengan harga Rp185-Rp195 ribu.

Penentuan harga kain batik ini juga disesuaikan dengan waktu pengerjaan dan kerumitan motif.

"Kalau soal harga itu ya disesuaikan dengan waktu pengerjaan dan kerumitan motif yang dipilih pembeli," tuturnya.

Selain menerima pesanan, Batik Kembang Turi juga memasarkan produknya secara online.

Tak tanggung tanggung, sejauh ini sudah mengirimkan batik ke sejumlah daerah di Indonesia hingga luar negeri meliputi Jakarta, Kalimantan Barat, Jambi, Kuala Lumpur, Prancis, Belanda dan lain lain.

"Kami juga memasarkan produk batik ini secara online ya, kemarin kami sudah kirim ke beberapa daerah di Indonesia hingga ke luar negeri," tambah dia.

Bagi pecinta batik wajib sekali untuk datang ke Kota Blitar khususnya di Kampung Kembang Turi. Disini, akan menemukan ragam batik yang bisa menambah koleksi di rumah.

Berita Lainnya